Jumat, 16 Agustus 2013

HIDUP ADALAH SEBUAH PERJALANAN PULANG



Hidup kita adalah sebuah perjalan pulang. Kita sering mengibaratkan kehidupan ini sebagai satu perjalanan panjang. Seperti apakah perjalanan panjang itu kita maksudkan dan dalam nuansa manakah perjalanan panjang itu kita refleksikan? Hal ini amat bergantung dari pengalaman hidup kita baik pribadi maupun bersama. Di sini pada moment ini, saya mengajak kita semua untuk melihat perjalanan panjang itu sebagai satu perjalanan pulang kembali ke rumah Bapa.
Sebagai orang beriman kita percaya bahwa baik hidup maupun mati ada dalam tangan Tuhan. Tidak seorang pun bisa menunda kematiuannya di luar kehendak tuhan. Kita percaya bahwa hidup kita adalah hadiah dari Tuhan yang haruis diterima dan dimanfaatkan. Dan bila tiba saatnya Tuhan mau mengambil kembali hidup ini tak seorangpun sanggup untuk menahannya. Kita tidak berhak atas hidup kita untuk diperpanjang atau diperpendek satu dua jam lagi. Maka bila tiba waktunya kita harus dengan  rela menyerahkan kembali hidup ini kepada Tuhan sebagai pemilik dan pemberi hidup itu sendiri. Karena itu peristiwa kematian tidak perlu dikait-kaitkan dengan dosa, sebab berdosa atau tidak berdosa kita akan tetap mati. Tapi Tuhan mengambil kembali hidup ini bukan untuk dimusnahkan tetapi mau diperbaharui dan didekatkan pada diriNya sebagai sumber kehidupan. Maka tidak perlu kita merasa takut dan terancam dengan kematian yang akan mengakhiri hidup kita.
Injil yang baru saja kita dengarkan tadi bisa memberikan jawaban atas misteri kematian yang sering menakutkan itu. Lewat perumpamaan tentang biji sesawi yang ditaburkan di tanah, Yesus ingin mengajarkan kepada kita hakikat dan nilai dari suatu kematian, serta apa itu kematian bagi Allah. Lewat perumpamaan ini Yesus ingin menjelaskan kepada para pendengarnya tentang kerajaan Allah. Kerajaan Allah seumpama biji sesawi yang ditaburkan dalam tanah. Berarti usaha Yesus untuk menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini pada mulanya dilihat sangat kecil, malah tidak nampak untuk dibayangkan. Namun setelah Ia wafat dan bangkit, benih karyaNya itu justru menampakan kerajaan Allah yang meluas ke seluruh dunia. Benih itu harus ditaburkan, mati kemudian tumbuh dan menghasilkan buah yang baru. Demikian rahasia kebangkitan. Namun orang yang tidak percaya akan kebangkitan melihat melihat kematian sebagai akhir  dari segalanya.
Bapak/ibu/saudara/I yang terkasih dalam Kristus…….dari misteri kematia Kristus menjadi jelas bahwa kematian bukanlah tanda berakhirnya hidup, melainkan mulainya hidup baru. Suatu hidup yang punya daya dan pengruh jauh lebih kuat, lebih besar dan lebih lebat daripada hidup sebelumnya. Kematian sebagai syarat hidup baru bersama Tuhan. Misteri wafat dan kebangkitan Kristus menjadi dasar dan alasan bagi kita untuk melihat kematian sebagai satu bentuk hidup baru dalam kedekatan dengan Allah sebagai pemilik hidup kita. Karena itu kematian bukan suatu kehancuran, bukan malapetaka atau bencana yang merenggut hidup dari sesama. Maka tidak ada alasan untuk marah atau membenci Tuhan. Karena hidup kita bukan berasal dari diri kita sendiri tetapi diberikan oleh Allah. Maka Ia berhak untuk mengambil kembali hidup itu. Namun Ia mengambilnya bukan untuk dimusnahkan tetapi untuk didekatkan pada dirinya sebagai sumber kehidupan. Ia memberi hidup surgawi kepada setiap orang yang percaya kepadanya. Karena itu marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Allah sebagai pemilik dan pemberi hidup. Semoga amal bakhti saudara….diterima di sisiNya. Selamat jalan sampai jumpa di jalan yang sama di rumah Bapa.  Amin  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar